Kultur dahak adalah salah satu prosedur laboratorium yang penting untuk mendiagnosis infeksi saluran pernapasan, seperti tuberkulosis (TBC), pneumonia, bronkitis, atau infeksi jamur. Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara mengumpulkan sampel dahak (mukus yang keluar dari paru-paru) kemudian menumbuhkannya di media khusus untuk mengidentifikasi mikroorganisme penyebab infeksi. Dahak (sputum) adalah lendir yang diproduksi oleh paru-paru dan tenggorokan. Lendir ini berfungsi untuk melindungi saluran pernapasan dari benda asing atau infeksi. Jika terjadi gangguan di saluran napas, salah satu tanda yang dapat terlihat adalah perubahan pada warna dahak.
Tujuan dan Manfaat Kultur Dahak
- Menentukan Jenis Mikroorganisme
Pemeriksaan ini dapat mengidentifikasikan bakteri, jamur, atau kuman penyebab infeksi saluran pernafasan bagian bawah.
- Menentukan Pengobatan yang Tepat
Setelah diketahui jenis pathogen, hasil kultur dapat digunakan untuk melakukna uji kepekaan (antibiogram) guna menentukan jenis antibiotic atau antijamur yang paling efektif.
- Membantu diagnosis Penyakit Kronis
Kultur dahak sangat penting dalam diagnosis penyakit menular kronis, seperti tuberculosis, serta untuk memantau efektivitas pengobatan.
Prosedur Pengambilan dan Pemeriksaan Kultur Dahak
- Persiapan Pasien
Biasanya pasien diminta mengeluarkan dahak di pagi hari sebelum makan atau minum, agar sampel lebih murni dan tidak terkontaminasi air liur.
- Pengumpulan Sampel
Pasien diminta batuk dalam-dalam untuk mengeluarkan dahak ke dalam wadah seteril.
- Pemeriksaan di Laboratorium
Sampel akan diletakan di media kultur (seperti agar darah atau agar coklat) dan diinkubasi selama 24-72 jam. Setelah pertumbuhan koloni mikroorganisme terjadi, laboratorium akan melakukan identifikasi dan uji sensitivitas.
Kultur dahak merupakan metode diagnosis yang penting dan akurat untuk mengidentifikasi penyebab infeksi saluran pernapasan. Dengan prosedur yang tepat dan hasil yang akurat, pengobatan dapat disesuaikan sehingga lebih efektif dan mencegah resistensi antibiotik.
Referensi :
World Health Organization (WHO). (2018). Laboratory diagnosis of tuberculosis by sputum microscopy. WHO Press.
Kementerian Kesehatan RI. (2021). Pedoman Nasional Tatalaksana Tuberkulosis. Jakarta: Kemenkes RI.
Cheesbrough, M. (2006). District Laboratory Practice in Tropical Countries, Part 2. Cambridge University Press.
Centers for Disease Control and Prevention (CDC). (2020). Sputum Specimen Collection.
Jawetz, Melnick, & Adelberg’s. (2019). Medical Microbiology (28th ed.). McGraw-Hill Education.
https://www.alodokter.com/ketahui-apa-itu-kultur-dahak.








